Genetika Intelektual Minangkabau dan Perjuangan Natsir
A thread
https://eskaelhussein.wordpress.com/2020/10/21/genetika-intelektual-minangkabau-dan-perjuangan-natsir/
A thread

Bio-intelektual dan Perjuangan Mohammad Natsir(Bagian I)
Pengaruh Dinamika Intelektual Minangkabau
Oleh Shofwan Karim
Pengantar Redaksi :
Pengaruh Dinamika Intelektual Minangkabau
Oleh Shofwan Karim
Pengantar Redaksi :
Dalam rangka menggali khazanah intelektual, perjuangan dan amaliah tokoh Indonesia dari Minangkabau, kali ini SINGGALANG menampilkan DR. Mohammad Natsir.
Artikel ini ditulis oleh Shofwan Karim yang kini sedang menggeluti pemikiran tokoh dan pejuang Islam nasional dan internasional yang satu ini. Tulisan ini tediri dari empat bagian yang yang dimuat secara bersambung. Selamat membaca. (Red) .
Pendahuluan
Pendahuluan
Mohammad Natsir (1908 –1993) merupakan pejuang struktural dan kultural Islam Indonesia yang tak ada bandingannya. Secara struktural ia berjuang di tataran suprastruktur politik sebagai eksekutif pernah menjadi Menteri Penerangan dan Perdana Menteri.
Begitu pula di infrastruktur ia memimpin partai Masyumi satu dekade sebagai ketua sekaligus anggota fraksi besar Masyumi di konstituante, lalu melawan Soekarno bersama PRRI dan masuk penjara.
Belakangan ia menjadi oposan orde Baru sebagai anggota dan nara sumber kelompok petisi 50. Secara kultural ia terjun ke dunia dakwah, pembinaan kader, mujtahid Islam, pemikir dan penulis.
Dengan begitu, sejak masa pertumbuhan, pemunculan di belantika perjuangan dan pematangan pemikiran serta amal-kiprah dakwahnya, M. Natsir tidak pernah lepas dari Islam .
Deskripsi analitis berikut merupakan refleksi kehidupan Mohammad Natsir dalam beberapa fase. Di dalam fase-fase kehidupannya itu terdapat pergumulan pemikiran Natsir dalam masalah kebangsaan yang berintikan nasionalisme-islami dan menolak ideologi nasionalisme sekuler.
Ideologi Islam menjadi sumbu penggerak perjuangan Natsir sejak muda, di masa pra kemerdekaan dan pergelutannya secara langsung dalam kehidupan politik dan kenegaraan di era kemerdekaan sampai dia mundur dari gelanggang politik praktis di peralihan ujung masa 1960-an ke…
…1970-an.
Mohammad Natsir merupakan tokoh pendidik, penulis produktif, pembela Islam dan ulama, pemikir, politisi-negarawan, penggerak dan praktisi dakwah multi dimensi. Secara umum kehidupannya dapat diikhtisarkan kepada beberapa fase.
Fase pembentukan, pertumbuhan, pemikir dan politisi-negarawan, serta pemikir dan pengabdi dakwah. Fase-fase itu dilaluinya pertama, di kampungnya Solok, Maninjau dan Padang tempat lahir dan masa remajanya 1908-1927.
Kedua, di Bandung menuntut ilmu, menulis dan menjadi pendidik 1927-1945. Ketiga, di Jakarta sebagai politisi dan negarawan 1945-1966. Keempat, di Jakarta sebagai pendakwah, pegiat amal sosial, anggota Petisi 50 dan aktivis Islam internasional 1966-1993.
Kelahiran Hingga Remaja (1908-1927)
Mohammad Natsir, gelar Datuk Sinaro Panjang, lahir di Kampung Jembatan Berukir, Kecamatan Lembah Gumanti, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908 dan wafat di Jakarta, 7 Februari 1993.
Sebagai pepatah, manusia mati meninggalkan nama, harimau mati meninggalkan belang, maka Allah Yarham DR. Mohammad Natsir telah meninggalkan nama yang sangat terkesan di hati ummat Islam Indonesia khususnya dan dunia Islam umumnya.
Mohammad Natsir lahir dari pasangan ibu dan ayah, Khadijah dan Idris Sutan Saripado. Ayahnya, Idris Sutan Saripado adalah Asisten Demang di Bonjol, kemudian menjadi juru tulis Kontrolir di Maninjau.
Mulanya Natsir sekolah Gubernemen berbahasa Melayu sampai kelas 2, tinggal bersama kedua orang tuanya, kemudian ia pindah ke Padang dibawa Eteknya (saudara ibu) yang bernama Rahim. (Panitia Buku, 1978:1-3.)
Kepindahannya ke Padang karena ingin masuk sekolah Hollands Inlands School (HIS) yang ada di kota ini. Siapa tahu keinginan itu bisa terkabul.(Ibid.)Tidak diterima di HIS pemerintah, ia masih beruntung dapat masuk HIS swasta Adabiyah yang baru dibuka DR.
Abdullah Ahmad. HIS Adabiah secara resmi didirikan 23 Agustus 1915. Tanggal ini sekaligus dijadikan Hari Ulang Tahun Adabiah yang diperingati sekali 5 tahun. (Amirsyahruddin, 1999: 49).
Lima bulan sekolah di HIS swasta Adabiah di Padang, karena ada HIS pemerintah dibuka di Solok, Natsir mencoba masuk ke sekolah ini. Kebetulan ayahnya pindah tugas ke Alahan Panjang dan membawanya singgah ke kota ini.
Karena kelas 1 sudah penuh, Natsir meminta dirinya dicoba masukkan ke kelas 2. Belakangan terbukti dia mampu mengikuti pelajaran di kelas yang lebih satu tingkat itu. Keadaan ini membesarkan hatinya, sekaligus memenuhi keinginannya untuk masuk HIS pemerintah.
Di samping motivasi belajar yang tinggi, boleh jadi HIS Adabiyah yang dimasukinya di Padang tidak kalah mutunya dengan sekolah HIS pemerintah di Solok, sehingga dasar ilmu pengetahuan yang diterimanya di kelas 1 HIS di Adabiyah Padang itu telah memberikan modal dasar…
… yang kokoh bagi Natsir ke tingkat selanjutnya.
Di kota ini ia tinggal di rumah saudagar H. Musa, ayah seorang anak siswa kelas 1 di HIS yang sama. Sambil pagi sekolah di HIS, sorenya Natsir belajar agama di Madrasah Diniyah dan malamnya mengaji al-Qur'an dengan Angku Mudo Amin.
Di kelas tiga Diniyah ia terpilih sebagai guru bantu. Inilah awal Natsir remaja mulai meresapi jiwa pendidik.
Tiga tahun kemudian atas permintaan Rabi'ah, sang kakak, ia kembali ke Padang dan dapat diterima di kelas lima HIS pemerintah yang memang dari dulu diidamkannya. Sebelumnya ia tidak bisa masuk sekolah ini karena ia anak pegawai kecil.
Pada saat itu mulai tertanam keyakinan dalam hati sanubari Natsir.
Pertama, niat yang kuat dan usaha sungguh-sungguh akan dibukakan Allah jalan untuk mencapai cita-cita. Kedua, hatinya pedih melihat ketidakadilan yang berlaku di tengah masyarakat. (Panitia Buku,1978:6). Ia menamatkan HIS ini tahun 1923.
Ketika kemudian melanjutkan sekolah ke MULO (Middlebare Uitgebreid Larger Orderwys), ia mendapat bea-siswa yang sejak semula didambakannya lantaran ekonomi keluarga pas-pasan.
Di MULO ia mulai belajar memainkan alat musik biola dan bebrapa waktu kemudian di sekolah ini ia aktif di kepanduan Natipij (Islamitische Padvindrij) dari organisasi pemuda Jong Islamieten Bond (JIB) dan perkumpulan pemuda Jong Sumatera.
Di dunia kepanduan ini Natsir muda sebagaimana juga lazimnya waktu itu, tokoh-tokoh yang menjadi pejuang Indonesia di belakang hari, ia menempa diri.
Kepanduan ini mampu memberinya bekal, menumbuhkan jiwa kesatria dan rasa kebangsaan yang paralel dengan jiwa keislaman.
Di samping itu dapat difahami bahwa lingkungan sosial, kultural dan dinamika intelektual di Minangkabau pada dekade kedua dan ketiga abad ke-20 itu sangatlah dinamis. Di tahun-tahun itu Natsir remaja menghirup cakrawala dan dinamika intelektual.
Sekolah Adabiyah tempatnya belajar, meskipun hanya beberapa waktu, agaknya memberikan dorongan yang kuat baginya untuk memahami ilmu agama dan ilmu umum secara paralel dan integratif.
Pendiri Adabiyah, Abdullah Ahmad adalah sosok ulama pembaharu di awal abad ini di Minangkabau bersama-sama dengan Abdul Karim Amrullah, dan Jamil Jambek.
Mereka bertiga adalah tokoh sentral Kaum Muda--suatu istilah untuk mereka yang memurnikan ajaran Islam dan berpandangan maju-- sama-sama alumni halaqah pendidikan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi di Mekah.
Pada tahun-tahun ini diskursus, perdebatan dan wacana keislaman marak.
Bersamaan dengan munculnya dikhotomi Kaum Muda dan Kaum Tua --istilah untuk ulama tradisional--, masing-masing mempunyai tokoh, lembaga pendidikan dan media komunikasi massa berupa jurnal dan majalah.
Madrasah Thawalib Padnag Panjang dan Adabiyah di Padang merupakan lembaga di antara beberapa lembaga pendidikan di kalangan Kaum Muda.
Sementara Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Ampek Angek, Candung, Agam di samping surau-surau tradisonal merupakan lembaga pendidikan di kalangan Kaum Tua. Abdullah Ahmad bersama rekan-rekan sehaluannya menerbitkan majalah Al-Munir yang terbit di Padang tahun 1911-1915.
Kaum muda lainnya menerbitkan Al-Bayan, Al-Imam, Al-Basyir dan Al-Ittiqan. Sementara Kaum Tua dengan tokoh sentralnya antara lain Khatib Ali di Padang, M. Sa'ad Mungkar, Sulaiman al-Rasuli, menerbitkan pula Al-Mizan dan lain-lain.
Di antara Kaum Muda dan Kaum Tua sering diadakan debat terbuka untuk membahas sosal-soal agama dan kebudayan yang berasal dari kehidupan agama. Perdebatan itu kadang-kadang menimbulkan pertikaian yang berimplikasi terbuka, kadang-kadang terutup.
Pertikaian Kaum Tua dan Kaum Muda ini baru hilang, setelah ulama Minangkabau bersatu dalam Majelis Islam Tinggi Minangkabau untuk menghadapi politik pemerintah Jepang. (Mahmud Yunus, 1979:91-93.)
Adalah sangat masuk akal, kalau dinamika sosial, budaya dan keagamaan, serta intelektual yang demikian langsung atau tidak, memberi pengaruh besar kepada Moh.
Natsir di masa remaja yang ditempuhnya di ranah ini sejak kelahiran 1908, belajar di HIS 1916-1923 dan kemudian MULO sampai 1927.
Pergumulan Ideologis Nasionalis Islami (1927-1945)
Pergumulan Ideologis Nasionalis Islami (1927-1945)
Setelah lulus MULO di Padang 1927, Natsir masuk AMS (Algemene Middlebare School) di Bandung dengan bea-siswa Rp.30. Saat usianya 19 tahun, ia tinggal di rumah Latifah, eteknya di kota yang kala itu dijuluki Paris van Java tersebut.
Di sekolah ini di samping belajar Bahasa Belanda ia belajar Bahasa Latin, Bahasa Prancis dan Kebudayaan Yunani, memperdalam sejarah peradaban Islam, Romawi dan Eropa dalam Bahasa Artab dan bahasa asing lainnya.
Dalam usia relatif muda (21) tahun Natsir telah menguasai lima bahasa asing: Arab, Belanda, Inggris, Prancis dan Latin. Di samping bahasa Indonesia dia menguasai dua bahasa daerah, Minangkabau dan Sunda.
Dengan "ilmu alat" bahasa dan filsafat yang dikuasainya memudahkan Natsir menjelajah dunia ilmu dan intelektualitas. (Ahmad Suhelmi, 1999:23-24.)
Di kelas 2 AMS ia sudah sanggup meneliti dan menganalisis "Pengaruh Penanaman Tebu dan Pabrik Gula Bagi Rakyat di Pulau Jawa" dan berani memaparkannya di depan kelas.
Menurut Natsir pengaruh penanaman tebu dan pendirian pabrik gula itu terhadap rakyat di Pulau Jawa adalah negatif.
Dalam tempo 40 menit Natsir membacakan analisisnya di depan kelas menguraikan bukti-bukti nyata bahwa tidaklah benar rakyat di Jawa mendapat keuntungan besar dari pabrik-pbarik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Yang untung ialah kaum pemilik modal dan para Bupati yang memaksa rakyat dengan perintah halusnya, supaya menyewakan tanahnya kepada pabrik dengan sewa yang amat rendah.
Sistem bekerja pabrik gula itu menjadikan rakyat tani miskin tetapi "merdeka" tadinya, menjadi buruh pabrik yang terikat kepada upah. Mereka tidak pernah terbebas dari hutang terus menerus. (Panitia Buku, 1978:15).
Agaknya Natsir muda secara obyektif telah mengkaji fakta dan data serta menganalisis hasil temuannya itu sehingga sampai pada kesimpulan demikian.
Hal ini tentu saja menunjukkan rasa kepeduliannya yang tinggi terhadap bangsanya yang kala itu seperti telah dimaklumi berada di bawah penjajahan Belanda.
Bukanlah suatu kebetulan kalau Natsir melakukan penelitian mini itu dalam rangka menunjukkan betapa kebijakan pertanian, perkebunan dan ekonomi Belanda terhadap bangsa Indonesia hanya untuk kepentingan sepihak penjajah itu semata.
Perasaan berpihak kepada rakyat kecil itu, membawa Natsir tertarik kepada kepada soal-soal "politik" dan ia mulai memperhatikan pidato-pidato dan gerakan Haji Agus Salim, HOS Cokroaminoto, Cipto Mangunkusumo dan lain-lain. Pergaulannya berkembang ke kalangan agama.
Melalui Fakhruddin al-Kahiri, Natsir berkenalan dengan Ustazd A. Hasan. Dilahirkan di Singapura tahun 1887, Ahmad Hasan adalah seorang yang berasal dari keluarga campuran, Indonesia dan India.
Ayahnya bernama Sinna Vappu Maricar, adalah juga seorang penulis, seorang ahli dalam Islam dan kesusasteraan Tamil.
Ia pernah menjadi redaktur dari Nur al-Islam, sebuah majalah agama dan kesusastraan Tamil, menulis beberapa kitab dalam bahasa Tamil dan beberapa terjemahan dari bahasa Arab. Ibu Ahmad Hasan berasal dari keluarga sederhana di Surabaya tetapi sangat taat beragama.
(Deliar Noer, 1980: 97-98.)
Di Bandung di rumah A. Hasan ada sebuah mesin cetak yang dijalankan dengan tangan. A. Hasan menulis Tafsir Qur'an al-Furqan yang langsung dicetaknya sendiri dengan bantuan tiga orang yang telah diajarnya terlebih dulu. Natsir tertarik dengan A.
Hasan yang sederhana, rapi dalam kerja, alim dan tajam dalam bertukar pikiran, berani mengemukakan pendapat dan pendirian, tidak peduli apakah orang lain setuju atau tidak. (Panitia Buku , 1978:16).
Selanjutnya Natsir menjalin hubungan yang akarab dengan A. Hasan sambil berdiskusi dan memperdalam pemahamannya tentang soal-soal Islam dengan terus tekun studi di AMS. Perasaan fanatik membela Islam mulai muncul dalam diri Natsir.
Ini berawal ketika diajak guru gambarnya menghadiri khutbah Pendeta Protestan DS Christoffel yang menyerang Islam.
Natsir membuat sanggahan yang dimuat dalam Surat Kabar Algemeen Indisch Dagblad (AID) dengan judul " Qur'an en Evangeli" (Perbandingan antara al-Qur'an dengan ajaran Nabi Isa) dan " Muhammad als Profeet" (Muhammad sebagai Rasul.) ( Ibid.h.17.)
Dinamika intelektual dan pemahaman Islam Natsir semakin intensif. Hal itu semakin berkembang akibat interaksi dan pergaulannya yang semakin dekat dengan A. Hasan. Menurut pengakuan Natsir selama ia di Bandung itu, ada tiga guru yang mempengaruhi alam pikirannya.
Pertama, Tuan Ahmad Hasan, yang kemudian menjadi pimpinan Persis Bandung, lalu Haji Agus Salim pemimpin Syarikat Islam dan Syekh Ahmad Syoerkati, pendiri al-Irsyad. (Tempo, 2 Desember 1989: 52). Kemudian kedua orang ini, Ahmad Hasan dan M.
Natsir terlibat penuh dalam gerakan Persatuan Islam (Persis).
Persatuan Islam (Persis) berdiri 17 September 1923 di Bandung. Pendirinya adalah dua usahawan yang berasal dari Palembang dan menetap di Bandung, KHM Zamzam dan H. Muhammad Junus. (Lihat, H. Endang Saifuddin, A.
Hasan Wajah dan Wijhah Seorang Mujtahid, Bandung: Firma Al-Muslimun, 1984, h. 13,) Keterlibatan A. Hasan dan Natsir dianggap oleh Deliar Noer sebagai suatu keberuntungan bagi Persis.
Yang pertama, Ahmad Hasan dianggap guru Persis yang utama pada masa sebelum perang Dunia II, dan yang kedua M.
Natsir dianggap pada waktu itu merupakan seorang anak muda yang sedang berkembang dan yang tampaknya bertindak sebagai jurubicara dari organisasi tersebut dalam kalangan kaum terpelajar.
(Bersambung ke bagian II)
(Bersambung ke bagian II)
This thread can be read here: https://eskaelhussein.wordpress.com/2020/10/21/genetika-intelektual-minangkabau-dan-perjuangan-natsir/