PRINSIP BERBICARA PADA ANAK
Utas baru dari tulisan lawas.
Aku daur ulang karena foto Lil A (then 3yo) unyu2 gemez
Utas baru dari tulisan lawas.
Aku daur ulang karena foto Lil A (then 3yo) unyu2 gemez

[Surabaya 2016] Kemarin saya dan Nino ngobrolin curcolan sopir taksi yang tidak berhasil menasihati anaknya agar tidak ikut trek-trek-an. "Susah, Mas, padahal STNK-nya sudah saya sembunyikan."
Saya sedih kalau dengar situasi kayak gini, ketika si orang tua tidak berdaya menghadapi anak sendiri. Tapi ya gimana, kalau anaknya sudah besar, berarti memang salah asuhan sejak kecil

Saya tanyakan ke Nino, prinsip utama apa sih yang harus dipunyai orang tua agar omongannya didengarkan anak-anak? Dia menjawab, "Yang pertama, orang tua HARUS PUNYA PRINSIP dulu." Hahaha. Tapi bener juga sih.
Ketika Nino ngomong begini, ada sepeda motor yang menyalip kami dari kiri, dua orang dewasa memakai helm, satu anak berdiri di tengah sepeda motor sambil joget-joget tanpa mengenakan helm. Ini di jalan raya ya, bukan jalan di gang kampung.
Saya yakin anaknya berperilaku begitu bukan karena ortunya tidak bisa menasihati, tapi karena memang TIDAK PUNYA PRINSIP bahwa keselamatan di jalan raya itu penting.
Menurut Nino, orang tua yg punya prinsip itu tahu nilai-nilai seperti apa yang dianut dan diberlakukan dalam keluarga. Peraturan semacam apa yg akan diterapkan dalam keluarga. Setiap keluarga menganut nilai-nilai yang berbeda. "Jangan membuat aturan kalau hanya untuk dilanggar."
Baru saja Nino ngomong begitu, kami melewati mobil2 pelanggan Soto Cak Har yang diparkir tepat di bawah rambu dilarang parkir. Sepertinya pemda gak pernah peduli sama pelanggaran terpampang nyata seperti ini. Gak ada gunanya punya peraturan kalau kayak begini. Podho ambek goroh
"Sebenarnya usia berapa sih anak-anak itu bisa diajak bicara?" kejar saya ke Mas Doktor kita, @ninoaditomo. "Ya, sedini mungkin," katanya kalem. "Sebagai orang tua, kita harus mengerti dan memahami apa yang dirasakan dan diinginkan anak," lanjutnya.
Saya setuju banget ini. Kami biasa ngobrol dengan anak-anak, menjelaskan segala sesuatu sebelum mereka benar-benar mengerti itu maksudnya apa. Yang lebih penting adalah, kami mencoba MENDENGARKAN anak-anak.
Jangan menganggap anak-anak kecil sebagai hiburan doang. Mereka bertanya, kita tertawakan. Mereka menangis, kita tertawakan. Mereka marah, kita tertawakan. Cobalah membantu anak-anak untuk mengenali emosinya sejak dini.
Tanyakan, apa kamu sedih? Apa yang membuat kamu sedih? Apa kamu marah? Apa yang membuat kamu marah? Kamu inginnya bagaimana? Apa yang bisa ayah/ibu bantu agar kamu nggak sedih/marah lagi?
Foto ini saya ambil di Hobart, Tasmania. Lil A waktu itu 3 tahun. Kami sudah bersiap-siap meninggalkan Hobart setelah menginap 3 malam dan akan melanjutkan perjalanan ke Cradle Mountain. Mobil sewaan sudah siap, dan kami harus segera cabut kalau tidak ingin kemalaman di jalan.
Eh tiba-tiba Lil A ngambek tidak mau masuk mobil. Saya udah langsung emosi aja, mau memiting dia untuk didudukkan di car seat. Tapi ayahnya lebih sabar, dan lebih logis daripada saya :p Nino turun dari mobil, mengajak bicara Lil A.
Ternyata dia nggak suka sama mobilnya, pengennya yang warna biru. Lalu dia juga nggak mau pergi ke Cradle Mountain, maunya pulang ke Sydney. Nino mengambil peta dan mulai menjelaskan, dimulai dengan, "I understand your feeling. But..."
Nino menjelaskan bahwa kami tidak mungkin balik ke Sydney dg mobil karena akan butuh waktu lama banget. Ditambah alasan2 logis lainnya. Saya tahu Little A nggak sepenuhnya mengerti, tapi karena tadi ayahnya sudah mau mendengarkan dia, Lil A akhirnya mau menerima kenyataan juga.
[IKLAN] Baca catatan perjalanan road trip kami di Tasmania http://www.travelingprecils.com/2012/02/road-trip-menjelajah-tasmania.html
Bagaimana kalau anak2 tetap ngeyel? Memangnya anak2mu nggak pernah tantrum, Mbak? Ya pernah lah. Makanya prinsip terakhir ini penting. Ketika berbicara pada anak, kita sbg orang tua harus tegas. Anak boleh meminta & mengusulkan, tetapi yg mengambil keputusan ya tetap orang tua.
Jangan sampai kita tersandera oleh keinginan anak. Jangan memberi reward untuk perilaku yang tidak kita inginkan pada anak.
Misalnya, karena anak menangis, atau teriak-teriak, lalu kita luluh. Lain kali pasti anak-anak akan menggunakan cara itu lagi, dan orang tua nya terjebak, sampai mereka dewasa nanti.
Monggo dipraktekkan sejak anak2 masih kecil, dengarkan mereka bicara, pahami yang mereka rasakan dan ketahui apa yang mereka inginkan. Ajak anak untuk berdialog dan berpikir logis, sampai akhirnya ada kompromi. ===
Ps: please note how Nino got down to his knee to be at Lil A's level. That's how you talk to kids. Always respect them
